banner 728x250

Babel Berhasil Tembus Inflasi 3 +/- 1%

PANGKALPINANG – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Faturachman menyatakan pihaknya yang termasuk dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) turut bersinergi dengan Pemerintah Daerah terus memperkuat inovasi program-program pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) disektor pangan.

Hal ini dilakukan tak lain agar angka inflasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tetap terjaga dengan baik.

“Kami dari Bank Indonesia bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam memperkuat program ketahanan pangan mandiri yang melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti kelompok tani, Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK, pondok pesantren, dan sebagainya1 untuk mendukung ketersediaan pasokan pangan. Tak hanya itu saja, kami juga melakukan penguatan Kerjasama Antar Daerah (KAD) eksisting antara Bangka Belitung dengan Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, Jawa Timur, Brebes, dan Simalungun akan dioptimalkan serta dengan daerah lain akan diperluas pada 2024,” kata Faturachman kepada awak media, Selasa (2/1/2024).

Untuk mendukung kelancaran distribusi, Bank Indonesia selama tahun 2023 turut berpartisipasi dalam memberikan fasilitas distribusi pangan.

Menurutnya, fasilitas tersebut diberikan dalam bentuk Subsidi Ongkos Angkut (SOA) khususnya di Pulau Belitung.

“SOA difasilitasi untuk mendatangkan komoditas pangan andil inflasi antara lain Minyak Goreng ”Minyakita” (Sragen-Belitung Timur), daging sapi beku (Jakarta-Belitung Timur), dan distribusi hortikultura dari lahan produsen ke lokasi Operasi Pasar Murah,” terang Faturachman.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memanfaatkan Dana Insentif Daerah (DID) dalam memfasilitasi SOA untuk mendatangkan komoditas operasi pasar murah subsidi (beras, minyak goreng, terigu, gula pasir) ke 7 Kabupaten/Kota di Bangka Belitung.

“Kami bersama TPID juga terus mewaspadai tekanan inflasi terutama pada beberapa jenis komoditas yang kerap muncul memberikan andil inflasi di awal tahun seperti komoditas ikan tangkap dan hortikultura. Namun demikian, melalui sinergi yang baik antar berbagai pihak angka inflasi Bangka Belitung tahun 2024 diharapkan tetap terjaga pada sasaran inflasi nasional 2,5+1%,” harap Faturachman.

Sedangkan untuk mendorong keterjangkauan harga, TPID dan Bulog terus menggalakkan operasi pasar, pasar murah, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras, serta sidak pasar. Pada bulan Desember 2023, telah dilaksanakan operasi pasar murah di kota Pangkalpinang (22/12) dan Tanjungpandan (20/12) mengantisipasi tekanan inflasi menjelang momen Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Selama tahun 2023, telah terlaksana 224 kali operasi pasar/pasar murah serta SPHP Bulog yang tersebar di 7 kabupaten/kota di Bangka Belitung.

Berdasarkan data BPS, gabungan 2 (dua) kota di Bangka Belitung pada Desember 2023 mengalami deflasi 0,04% (mtm). Sedangkan secara tahunan Bangka Belitung mengalami inflasi 2,65% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya 3,87% (yoy).

“Deflasi bulanan utamanya disumbangkan oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil -0,1031%, seperti aneka ikan laut (ikan selar, ikan kerisi, dan cumi-cumi). Secara tahunan, angka inflasi Bangka Belitung masih berada dalam sasaran inflasi nasional yaitu sebesar 3+1%,” urai Faturachman.

Secara spasial, kota Tanjungpandan mengalami deflasi bulanan 0,57% (mtm), dan merupakan angka deflasi ke-2 terdalam se-Indonesia. Deflasi tersebut bersumber dari komoditas ikan kerisi, ikan selar, dan cumi-cumi.

“Secara tahunan, Tanjungpandan mengalami inflasi 3,80% (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 119,93, yang bersumber dari komoditas beras, angkutan udara, dan cabai merah. Angka inflasi tersebut lebih rendah dari bulan sebelumnya yaitu sebesar 5,89% (yoy),” jelas Faturachman.

Lebih lanjut dia menambahkan, kota Pangkalpinang mengalami inflasi bulanan 0,26% (mtm) yang bersumber dari kenaikan harga angkutan udara, bawang merah, dan emas perhiasan.

Secara tahunan, kota Pangkalpinang mengalami inflasi 2,01% (yoy) dengan IHK 115,94, terutama bersumber dari komoditas beras, rokok kretek filter, dan cabai merah.

“Angka inflasi tahunan kota Pangkalpinang juga lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yaitu sebesar 2,65% (yoy),” tukasnya. (bai)

error: Content is protected !!
banner 728x250