JAKARTA – Sidang perkara gugatan lain-lain terkait kepemilikan mesin dan alat produksi plat timah, antara Hongkong Hua Yin Feng International Trading Co.Ltd. (Penggugat) dengan Kurator PT. Royal Industries Indonesia (dalam pailit) selaku Tergugat, kembali digelar dengan agenda pembuktian, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) pada Rabu, (27/2/2024).
Dalam sidang tersebut, diketuai majelis hakim Kadarisman Al Riskandar SH, MH, dan tim Kuasa hukum Penggugat yang terdiri dari Faizal Abidin Mangaweang SH, Rudi S. Soemodihardjo SH, dan Rony Yoshua O. Napitupulu, SH Advokat pada LAW FIRM Mangaweang & Partner’s memberikan bukti-bukti kepemilikan seperangkat mesin produksi plat timah hasil rancang bangun dan produksi Penggugat, yang saat ini tengah berada pada penguasaan Tergugat.
“Pada sidang pembuktian ini, kami selaku kuasa hukum dari Penggugat telah memberikan kurang lebih 7 alat bukti. Bukti ini untuk membuktikan bahwasanya mesin tersebut benar adanya, keberadaannya, milik klien kami,” ujar Faizal Abidin Mangaweang SH, didampingi Rudi S. Soemodihardjo SH usai sidang, pada Rabu (27/2/2024).
Selain itu, Faizal Abidin akan mengajukan saksi-saksi. Karena saksi ini yang bisa memasang mesin-mesin yang berada di pabrik PT. Royal Industries Indonesia (PT. RII) di Karawang, Jawa Barat.
“Nanti kita juga akan ajukan saksi, yang mana saksi spesialis ini merupakan Penggugat sendiri selaku ahli dan pemilik mesin, jadi PT Royal sendiri tidak akan bisa memproduksi atau mengaktifkan apalagi menyalakan mesin itu, hanya dialah (Penggugat) satu-satunya didunia yang mempunyai lisensi mesin itu,” ungkapnya.
Kendati demikian, kata Faizal pihaknya telah mendapat kabar dalam pailit ini PT RII telah melelang atau menjual mesin tersebut, dan sudah dilakukan pemberesan di PT. RII.
Sementara itu, Rudi S. Soemodihardjo SH, menambahkan bahwa prinsipnya gugatan ini diajukan karena punya sangka beralasan barang tersebut sudah dialihkan.
“Buat kami itu tidak ada masalah, yang penting hak kami, kami eksplor, kami mintakan, kami tuntutkan agar mereka bertanggungjawab atas barang kami,” pungkasnya.
Gugatan
Untuk yang diketahui, para Advokat pada LAW FIRM Mangaweang & Partner’s selaku kuasa khusus bertindak untuk dan atas nama: Zhou Minghua seorang warganegara Tiongkok, selaku Direktur Utama (chairman) Hongkong Hua Yin Feng International Investment Co.Ltd sekarang Hongkong Hua Yin Feng International Trading Co.Ltd. Mereka menggugat Kurator PT. Royal Industries Indonesia (RII) di PN Jakpus.
Dalam gugatannya menyatakan, bahwa Penggugat Hongkong Hua Yin Feng International Trading Co.Ltd adalah perusahaan di bidang produksi mesin dan alat-alat manufacturing terkhusus pembuatan mesin-mesin kemasan pabrik dan plat timah berkedudukan hukum di Hongkong.
Kemudian, pada tahun 2013, Penggugat mengadakan perjanjian dengan pihak PT. Royal Industries Indonesia (dalam pailit) dan selanjutnya atas kesepakatan keduanya penggugat telah mengirimkan seperangkat mesin dan alat produksi plat timah untuk diinstal dan digunakan di lokasi site pabrik PT. Royal Industries Indonesia (RII) terletak di Jl. Surya Pratama No.4, Kutanegara, Kec. Ciampel, Karawang, Jawa Barat 41363.
Bahwa obyek dari perjanjian seperangkat mesin dan alat produksi plat timah untuk diinstal dan digunakan di lokasi site pabrik PT. RII (dalam pailit) dimaksud adalah seperangkat mesin produksi plat timah hasil rancang bangun dan produksi Penggugat dengan spesifikasi barang sebagai berikut : Mesin Electrolyte Tin Plate dengan kapasitas 500 MT per hari (dalam keadaan baru dan belum dioperasionalkan) yang saat ini tengah berada pada penguasaan Tergugat.
Selanjutnya, pada tahun 2017 sampai 2018 PT. RII masuk dan dalam masa penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) sementara. Kemudian disusul dengan penetapan homologasi atas penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) PT. RII dan dilanjutkan lagi pada tahun 2021 terjadi pembatalan Homologasi atas PT. RII dan pada 22 Maret 2021 PT. RII dinyatakan pailit dengan segala akibat hukumnya.
Nah, terkait putusan homologasi dalam proses PKPU PT. RII (dalam pailit) tersebut, ternyata barang milik Penggugat berupa Mesin Electrolyte Tin Plate dengan kapasitas 500 MT per hari (dalam keadaan baru dan belum dioperasionalkan), tapi telah diklaim sebagai aset dari PT. RII.
Bahwa tindakan Tergugat memasukkan barang milik Penggugat adalah tindakan salah prosedur dalam proses kepailitan dan telah melawan hukum, tindakan tersebut sangat merugikan Penggugat.
Menyikapi keadaan itu, menurut hukum cukup alasan kiranya Penggugat memohon kepada yang mulia Hakim pemutus dalam perkara Nomor 21/Pdt.Sus-PembataIan Perdamaian/2020/PN.Niaga.Jkt.Pst. Jo. Nomor 120/Pdt.SusPKPU/2017/PN.Niaga.Jkt.Pst. Pengadilan Niaga Pada PN Jakpus untuk menghukum dan mewajibkan Tergugat membatalkan daftar asset (budel) Pailit PT. RII, lalu mencoret serta mengeluarkannya barang milik Penggugat. (Amris)